KENIKMATAN LUKIS ON THE SPOT
Oleh: Deni Junaedi
Gairah saya bangkit ketika melukis langsung di alam
terbuka. Kenikmatan berkarya di tempat baru ini menjadi penjeda aktivitas
berkesenian sehari-hari di studio lukis, mirip reff dalam lagu. Penjedaan ini membuat ketagihan,
sebagaimana reffrein yang bermakna ‘pengulangan’. Melukis langsung on the spot menagih saya untuk mengulangi dan terus mengulangi.
LOKASI
LUKIS LUAR STUDIO
Untuk itu, meskipun tanpa perencanaan yang sistematis dalam hal tempat dan waktu, alhamdulillah saya telah melakoni lukis luar studio di beberapa kota, baik di dalam maupun luar negeri. Kota Indonesia yang pernah saya singgahi untuk melukis antara lain: Padang, Manado, Lampung, Bali, Bangka, Batam, Dieng, Banyumas, Bogor, Bandung, Magelang, Jakarta, Klaten, Kendal, Weleri, Boja, dan ada yang lupa. Lokasi luar negeri yang pernah saya gunakan OTS, demikian on the spot biasanya disingkat, adalah Malaysia, Thailand, dan Turki.
Kegiatan outdoor painting ini, tentu saja, paling sering saya
lakukan di Yogyakarta, kota tinggal sejak tahun 1997 ketika pertama kali
menjadi mahasiswa seni lukis ISI Yogyakarta; dan kegiatan ini terus berlangsung
setelah saya diterima sebagai dosen seni lukis di kampus ‘ibu susuhan’ (alma mater) pada 2004; bahkan terus saya nikmati hingga sekarang. Ini berkesesuaian dengan mata
kuliah yang saya ampu, Seni Lukis Dasar I maupun II, dengan materi melukis
langsung pada suatu lokasi dengan cara mengamati objek, misalnya, melukis
langsung di Istana Air Tamansari.
En plein air, istilah pakem akademis untuk on the spot, pun telah saya jalani sebelum kuliah. Desa
kelahiran saya, Sukorejo yang ada di lereng Gunung Perahu, menarik perhatian
untuk aktivitas lukis luar ruangan ini. Bahkan ketika mudik saya tidak lupa
membawa seperangkat alat on the spot.
Kota-kota yang tadi saya sebutkan seringkali tidak dimaksudkan
sebagai agenda en plein air semata. Perjalanan saya ke sana untuk urusan lain
tetapi masih terkait dengan dunia seni lukis, misalnya menjadi juri lomba lukis
nasional, sebagaimana yang terjadi di Jakarta, Batam, Manado, Lampung, Bangka,
atau Bogor; juga untuk menjadi pembicara, seperti ketika mengisi Seminar
Estetika Nasional di Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Di sela-sela agenda
yang telah disusun panitia, saya menyelinap menikmati pemandangan baru untuk
direkam dalam kertas.
Demikian juga, saat pergi bersama keluarga untuk
makan-makan di tempat menyenangkan, saya sempatkan untuk melukis, meskipun
dalam ukuran kecil, contohnya, melukis di Kampung Mataraman dan Rumah Makan
Tempoe Doeloe. Bahkan, ketika anak kedua opname di RS Panembahan Senopati, saya
menjaga sambil melukis landskap yang tampak dari teras.
Selain itu, saya beberapa kali secara khusus mengagendakan
outdoor
painting, baik sendiri maupun bersama
beberapa teman. Ketika melukis Masjid Al-Aqsa Klaten dan Pantai Pandansari,
misalnya, saya melukis sendiri, yang lain hanya menemani.
Saya beberapa kali membuat perjalanan seni atau arts trip bersama Jejaring Seniman Muslim KHAT. Agenda ini
memang dirancang untuk melukis langsung pada lokasi-lokasi bersejarah peradaban
Islam. Lokasi yang pernah dikunjungi antara lain adalah Kraton Kanoman Cirebon,
Masjid Sunan Ampel Surabaya, Kraton Kasunanan Surakarta, Masjid Baing Yusuf
Purwakarta, Makam Syekh Jumadil Kubro, dan Kampung Seribu Masjid Dieng.
Sementara itu, untuk perjalanan ke luar negeri
selalu berhubungan dengan seni meskipun tidak selalu khusus untuk en plein air. Agenda yang khusus untuk outdoor
painting adalah ‘Asian Watercolor Art
Workshop & Exhibition’ yang diselenggarakan Andaman Museum, Krabi, Thailand.
Saat itu,on
the spot dilakukan di beberapa tempat
wisata yang ada di seputaran kota Krabi. Seniman cat air dari berbagai negara
beraksi kala itu, dari Indonesia diwakili dua semiman: Teguh Wiyatno dan saya.
Sketsa on the spot saya kerjakan di Malaysia saat pameran lukisan di
Pace Gallery Petalingjaya. Waktu itu pameran diikuti seniman dari Filipina,
Malaysia, dan Indonesia. Selanjutnya, keberangkatan saya ke Turki sebagai
hadiah kompetisi seni yang diselenggarakan oleh Terang Trip Jakarta. Di negeri
yang ada di benua Eropa dan Asia ini saya melukis Masjid Selimiye Edirne, Menara
Galata dari pinggir Teluk Tanduk Emas, dan Gunung Salju Uludag. Sayangnya,
waktu di Hongkong untuk studi banding industry kreatif saya tidak sempat on the spot.
PRAKTEK
EN PLEIN AIR
Cat
air adalah media yang paling sering saya gunakan untuk en plein air. Bahan ini praktis, tidak makan tempat, dan kuas
mudah dibersihkan. Meskipun demikian, material ini terhitung sulit karena
karakter transparannya. Bentuk yang sudah diterakan tidak dapat direvisi dengan
cara dihapus atau ditutup sebagaimana dalam cat minyak, akrilik, atau poster.
Warna putih cat air menggunakan warna kertas.
Untuk
perjalanan luar kota yang tidak dikhususkan untuk lukis langsung saya cenderung
melukis dengan ukuran kecil. Umumnya lukisan dikerjakan di kertas aquarel
ukuran A4, terkadang A5, beberapa A3.
En plein air yang memang diagendakan akan lebih dipersiapkan
alat dan bahannya. Arts trip yang telah dirancang jauh hari dapat menggunakan
hingga tiga mobil, muat berbagai kebutuhan on the spot. Untuk itu, selain kertas saya dapat membawa kanvas
lebih lebar.
Meskipun cat air adalah media favorit, saya juga
menggunakan material lain. Ketika melukis di Pantai Pandansari Jogja saya
menggunakan cat akrilik, dan saat melukis di Masjid Al-Aqsa Klaten menggunakan
cat poster. Selain itu, tinta juga digunakan untuk sketsa.
Cat minyak tidak pernah saya pakai karena tidak
praktis, lama kering dan berbau menyengat. Sudah lama saya tidak menggunakan
cat minyak, meskipun dulu pernah menjadi media kesayangan saat melukis di
studio.
Sementara itu, kendala on the spot dalam sela-sela kegiatan lain adalah waktu yang
tersedia. Seringkali waktu yang digunakan kurang banyak, apalagi ketika proses
mencari lokasi yang memiliki view menarik
sekaligus tempat duduk yang nyaman membutuhkan waktu lama.
Beberapa lukisan on the spot saya tidak selesai di lokasi karena berbagai
persoalan. Misalnya, saya harus mengakhiri proses melukis karena ada rapat
seperti saat melukis di Hotel Golden View Batam. Jadwal terbang pesawat sudah
mendesak seperti ketika melukis di kampung Pariangan Padang. Hujan deras segera
turun saat di Dieng. Lukisan yang tidak jadi biasanya saya teruskan di rumah,
di studio.
Tentu saja hasil pekerjaan di rumah berbeda dengan
di lapangan. Melukis di alam terbuka mesti memiliki persiapan mental yaitu
melukis dalam kondisi darurat. Alat dan bahan terbatas, apalagi jika ada yang
lupa dibawa. Duduk tidak senyaman di kursi empuk, apalagi ketika banyak nyamuk
di semak-semak sebagaimana melukis di Batam.
Tantangan paling terkenal untuk melukis di ruang
publik adalah para penonton. Kemungkinan, pelukis yang baru pertama kali beraksi
di hadapan publik akan membatin, “Apakah para penonton awam itu tahu kehebatan
goresanku yang njlebret-njlebret ini? Apakah mereka mengetahui kalau aku melakukan
kekeliruan bentuk, sebenarnya tidak begini tapi begitu? Apakah di antara
penonton itu ada pelukis senior bahkan maestro?” Batin-batin itu tentu saja
membuat ndredeg dan gembrobyos, maka saya berusaha tidak membatinnya, tetapi
menikmati prosesnya.
Di sisi lain, studio adalah tempat yang dibuat
nyaman untuk berkarya, semua alat dan perlengkapan tersedia. Atap melindungi
dari panas matahari, dinding menjaga dari angin yang terlalu kencang, cahaya
lampu dibuat stabil. Hal penting lagi, di studio seorang seniman dapat
bersembunyi dari tatapan orang lain. Untuk itu, lukisan di studio kerap kali
lebih terkontrol, lebih cermat, lebih rapi. Sehingga lukisan yang dikerjakan di
lapangan dan diteruskan di rumah akan menjadi perpaduan keliaran dan kerapian,
tetapi kerapiannya sering lebih dominan.
Selain beberapa proses di atas, terkadang ketika pergi
saya menemukan objek yang menarik untuk dilukis tetapi tidak membawa
perlengkapan lukis. Cahaya dan bayangan sangat pas saat itu, belum tentu akan
sama untuk waktu yang berbeda. Maka saya abadikan dengan foto untuk dilukis.
Dapat diterka, hasil dengan cara ini akan lebih fotografis. Dalam pameran
tunggal kedua ini, saya hadirkan satu lukisan yang saya kerjakan dengan cara
ini, yaitu Kampung Sleman.
PAINTING
EXPLORER YOUTUBE CHANNEL
Hampir seluruh aktivitas on
the spot tadi
saya abadikan di PAINTING EXPLORER Channel. Kanal YouTube ini berkonten seni,
khususnya seni lukis, baik teori maupun praktek. Saat tulisan ini saya buat,
subscribernya berjumlah 30.094. Dalam pembukaan, setelah salam, sering saya
sapa dengan, “Welcome to PAINTING EXPLORER Channel.” Lalu saya perkenalkan
diri, “Rekan-rekan bersama saya, Deni Je, Konten Kreator PAINTING EXPLORER
Channel.”
Saya mengupload video outdoor
painting sebagai siaran tunda maupun live streaming. Kelebihan siaran tunda adalah kesempatan untuk
mengedit video, sehingga konten yang dihadirkan dapat terseleksi. Akan tetapi,
cara ini memiliki kekurangan yaitu memakan waktu dan usaha yang lebih banyak,
seperti untuk proses editing, sehingga ada beberapa video en plein air yang hingga kini belum teredit apalagi terupload.
Salah satunya adalah ketika melukis di kolam renang Hotel Sahid Jaya Solo.
Live streaming memiliki tiga kelebihan. Pertama, saya dapat berinteraksi langsung dengan viewers lewat live chat. Mereka menyapa, berkomentar, atau bertanya kepada
saya saat lukisan dikerjakan. Kedua, aktivitas tampak alami tanpa editan, bahkan
termasuk jika ada kejutan-kejutan. Misalnya, ketika melukis di depan hotel Four
Point by Sheraton Bandung, tiba-tiba ada mobil siram sedang menyemprot air,
kecipratan. Selain itu, antara para viewers juga dapat saling menyapa. Ketiga, kelebihan live adalah tidak perlu susah-susah mengedit.
SALAH
KAPRAH ISTILAH ON THE SPOT
Video lukis langsung ini saya satukan dalam
playlist “ON THE SPOT (LUKIS LUAR STUDIO/EN PLEIN AIR/PAINTING OUTDOOR)”. Di
Indonesia, on the spot, yang berasal dari Bahasa Inggris, menjadi istilah paling popular untuk melukis
langsung di luar ruangan dengan cara mengacu objek yang dilihat.
Namun demikian, di negara lain, on the spot yang secara harfiah berarti ‘di tempat’, mengacu
pada kegiatan melukis yang dikerjakan pada tempat dan waktu khusus yang telah
ditentukan, tidak harus mengacu pada objek yang dilihat. Misalnya, pengumuman On the Spot
Painting Competition berarti
lomba lukis dengan cara merampungkan lukisan di tempat dan waktu yang telah
ditentukan panitia; ini untuk pembeda dari lomba lukis yang dilaksanakan dengan
cara mengirimkan lukisan yang telah dibuat di rumah masing-masing peserta.
Istilah yang paling tepat untuk kegiatan melukis di
luar ruangan dengan mengacu pada objek landskap yang dilihat adalah en plein air. Istilah yang berasal dari Bahasa Perancis ini
berarti ‘luar ruang’ atau ‘outdoor’. Kadang aktivitas tersebut disebut dengan plein air
painting atau painting
outdoor.
Di Bahasa Indonesia, saya terkadang menggunakan
istilah yang panjang untuk aktivitas tersebut, yaitu melukis langsung di luar
studio. Misalnya, tahun 2018 saya membuat penelitian DIKTI dengan judul
“Estetika Closure dengan Efek Cat Air pada Praktek Melukis Langsung di Luar
Studio”.
Pameran ini justru memanfaatkan istilah yang telah
salah kaprah di Indonesia. Bahasa adalah persoalan kesepakatan masyarakat
penggunanya. Jika istilah on the spot lebih dapat menggambarkan fenomena yang dimaksud,
maka istilah itu lebih efektif untuk digunakan. Jika pameran ini diketahui oleh
pengguna bahasa yang memahami on the spot sebagai ‘di tempat dan waktu yang telah dtentukan’,
maka biarlah pengguna itu memahami bahwa on the spot dipahami secara berbeda oleh pengguna lain.
PELUNCURAN
PAINTING EXPLORER MERCHANDISE
Pameran
tunggal on
the spot ini sekaligus sebagai launching PAINTING EXPLORER Merchandise. Distro online ini
untuk menjual oleh-oleh setelah viewers berkunjung ke PAINTING EXPLORER Channel. Merch dalam distro ini berisi pernak-pernik yang
mengaplikasikan lukisan saya selaku konten kreator dan juga menjual buku Estetika:
Jalinan Subjek, Objek, dan Nilai, buku yang awalnya diluncukan tahun 2016 itu kini terbit
cetakan ketiga tahun 2021.
Oleh-oleh utama PAINTING EXPLORER Merchandise
adalah repro lukisan saya dalam bentuk print digital pada kanvas. Lukisan hasil
on
the spot ini tentu saja juga masuk di
dalamnya. Berikut ini alasan saya membuat repro lukisan.
Saya beberapa kali mendapat DM di Instagram @deni.painting
yang menyatakan ingin mengoleksi lukisan. Namun banyak juga yang akhirnya belum
dapat mengkoleksi karena persoalan harga. Saya merasa tidak enak. Sebanarnya,
keinginan seseorang untuk mengkoleksi karya adalah suatu bentuk penghormatan
tersendiri. Itu sudah membuat saya merasa senang. Untuk itu saya berusaha
mencari solusi jalan tengah.
Mengkoleksi atau memajang lukisan di rumah, selain
unsur penghias ruangan, terdapat juga aspek hubungan emosional antara pencinta
seni dengan sang seniman. Ini mirip hubungan penggemar lagu dengan musisinya.
Untuk itu, jika karya yang dikoleksi adalah hasil reproduksi, maka hubungan
emosional itu berkurang karena tidak ada jejak tangan seniman pada karya itu.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya membubuhkan tanda tangan asli pada repro
lukisan yang ada di PAINTING EXPLORER Merchandise.
Online art shop ini memanfaatkan GoStore sebagai media transaksi.
GoStore saya pilih karena berbasis website dan dapat dibuka tanpa aplikasi
tertentu dengan klik paintingexplorer.mygostore.com. Selain itu, karena GoStore
adalah anak perusahaan GoJek yang sudah teruji dan dipercaya pelanggan, maka
GoStore lebih mudah diterima masyarakat Indonesia.
Selain dengan cara klik link tersebut, GoStore
PAINTING EXPLORER Merchandise dapat diakses lewat profil Instgram saya,
@deni.painting. Di sana terdapat tombol ‘lihat toko’ yang dapat diklik menuju
distro online ini.
Selain GoStore, PAINTING EXPLORER Merchandise juga
hadir di Shopee. Bedanya, di marketplace ini tidak terdapat repro lukisan saya,
tetapi pernak-pernik terkait PAINTING EXPLORER YouTube Channel, seperti kaos
PAINTING EXPLORER maupun buku karya saya.
Kelebihan repro lukisan dalam bentuk print di
kanvas adalah ukurannya dapat menyesuaikan dinding yang ada. Untuk itu, ukuran
custom maupun pilihan lukisan, tersedia juga PAINTING EXPLORER Merchandise di
WA Bisnis yang dikelola istri saya, Mama Sulistyaningsih, dengan nomor
081391781903.
NIKMAT
ON THE SPOT NIKMAT HIDUP
Aktivitas
lukis on
the spot memang penuh kenikmatan. Menikmati
kesegaran alam terbuka dan sekaligus pemandangan baru dapat merefresh dari
aktivitas keseharian. Jika bentuk dan goresan sesuai dengan yang diinginkan dan
sekaligus mengacu pada objek yang ada, maka kenikmatan itu semakin
meningkat-ningkat. Bahkan, setelah lukisan selesai, setelah beberapa tahun
berlalu, kenangan perjalanan itu muncul kembali saat melihat lukisannya.
Kendati
sendiri, melukis langsung terasa nikmat. Ketika en plein
painting bersama teman, kenikmatan semakin
besar. Berkarya bersama
seniman lain suasananya lebih seru dan kompetitif, saling melirik hasil.
Melukis bersama dalam satu kanvas juga memiliki keasyikan tersendiri,
sebagaimana ketika melukis dalam satu kanvas besar bersama Jejaring Seniman
Muslim KHAT di tebing tinggi Parangtritis maupun Monas saat 212.
Rupanya
kenikmatan berada di tempat baru luar ruangan ini tidak hanya dirasakan
pelukis. Sastrawan pun ikut menikmatinya. Dalam al-Quran surat As-Syu’araa,
yang berarti Para Penyair, khususnya ayat 225, disebutkan bahwa, “A lam tara annahum
fī kulli wādiy yahīmụn” (Tidakkah
kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah).
Sebuah
trip, perjalanan dengan memperhatikan apa yang ditemui, memang diperlukan untuk
referensi wawasan. Dalam surat Al-‘Ankabut ayat 20 disebutkan, “yu’ażżibu may
yasyā`u wa yar-ḥamu may yasyā`, wa ilaihi tuqlabụn” (Katakanlah: “Berjalanlah di [muka] bumi, maka
perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan [manusia] dari permulaannya, kemudian
Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu). Trip dalam surat ini membawa ke kesadaran tentang keberadaan Sang
Pencipta, dengan demikian terkait dengan aqidah.
Sementara
itu, di surat Ali-Imran ayat 137 disebutkan, “hāżā bayānul lin-nāsi wa
hudaw wa mau’iẓatul lil-muttaqīn” (Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu
sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan [rasul-rasul]). Jika dalam
Al-‘Ankabut bernuansa aqidah, dalam surat ini terkait syariah, yaitu penerapan
aturan ilahi dalam kehidupan sehari-hari agar mendapatkan kehidupan yang aman
di dunia, terlebih di akhirat.
Semoga
perjalanan melukis di luar studio ini tidak saja menjadi kenikmatan dunia.
Semoga perjalanan on the spot ini menjadi sarana saling cinta pada Sang Pencipta.
Semoga pameran ini tidak menjadi aksi pamer yang mentang-mentang. Tetapi luapan
kenikmatan cinta pada-Nya. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar